Haiiii

May 19th, 2006 by fwyenx

Adede.. lama betul sdh pula sia ni tida cek sia punya blog o.. Sibuk gia sia :(

Bah kawan2 kalo kamu ada masa nga, nanti 30hb Mei 2006, kamu datang la p rumah sia d ranau kio.. nanti kamu pandai2 sija la cari rumah sia. Jemputan beramai-ramai ni hahahah… Bah itu sija la cerita sia nikali.

Merry Christmas And Happy New Year 2006 :)

December 21st, 2005 by fwyenx

Fulamakkk.. men lama sa tia update ni blog sia.. hehehe..

Dalam kesempatan ini.. sia mo ucapkan Selamat Hari Natal dulu la sama semua kawan2 yang merayakan Hari Natal. Kalo balik kampung berkrismas tu.. jan pula sampai lupa balik kerja kio.. hehehe.. nanti kena buang karaja kan sia2 sija hidup kan kan kan.. hehe.. Tahun Baru pun nda lama lagi kan.. so.. sa mo ucap Selamat menyambut Tahun yang baru 2006. Moga2 apa yang kita impikan yang tia kita tercapai pada tahun 2005 ini akan tercapai pada tahun yang baru lagi ni. Bagi mereka2 yang menamatkan musim bujang pada tahun 2005 ni pun sa ucapkan "Selamat Berbahagia, sehingga ke anak cucu" heheh.. harap2 yang berkenaan tu dapat baca laini kan.. eddy.. :)

Sia mo balik kampung sdh ni bisuk, yang tia tebalik berkrismas d kampung tu kan.. jan la kamu sedih arr.. sabar2 sija kamu. Nanti tahun depan ada lagi tu Krismas hehe.. lama ni sia cuti kali ni.. mo dekat 2 minggu oo.. hahahaha.. berabis mo cuti bah gia. nanti 3hb baru sa masuk kerja balik gia.

Bah ini sija la cerita2 sia kali ini.. cerita kosong jak bah ni.. hehehe.. saja2.. :) mo becerita sempena krismas kunun.. ehehee

"MeRrY ChRisTmAs 2005 And HaPpY NeW YeAr 2006"

Adeiii…

November 21st, 2005 by fwyenx

Adeii..

Lama sdh sia tidak update ni blog sia oOo.. sibuk bah kunun ni skrang.. Penat utak sia.. trus sia tia tau apa mo story sini.. heheh.. Tiapa la.. nanti siap ni sibuk baru sia barabis story banyak-banyak kunuk sini.. :)

Respect your mom….

October 30th, 2005 by fwyenx

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang. Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?" " Ya, tetapi, aku tdk membawa uang" jawab Ana dengan malu-malu "Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu" jawab si pemilik kedai. "Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu". Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa nona?" Tanya si pemilik kedai. "tidak apa-apa" aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya. "Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,… ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah" "Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri" katanya kepada pemilik kedai Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata "Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak terima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya" Ana, terhenyak mendengar hal tsb. "Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya. Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang" Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya. Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

RENUNGAN:

BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA. SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA. TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR. PIKIRKANLAH HAL ITU…… APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?

Renungan

October 16th, 2005 by fwyenx

Sahutnya kepada mereka:
"Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut,
maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi.
Sebab aku tahu,
bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu."
( Yunus 1:12 )

Bagaimana dengan kita ….. ?
Coba mari kita renungkan …..

Di tempat kerja kita ……
Di tempat pelayanan kita ……
Di rumah tangga kita ……

Adakah kehadiran kita …….
Menjadi berkat …… ?
Atau …..
Menimbulkan badai besar ….. ?

Yunus menimbulkan badai besar ……
Dan dia minta dicampakkan ……

Bagaimana dengan kita ….. ?
Seandainya kita membawa badai besar ….. ?
Adakah kita juga minta dicampakkan …… ?

Kita yang sudah mengenal kasih karunia Tuhan …..
Pastilah tahu Tuhan mau mengampuni kita ……
Pasti tahu Tuhan pun tak menghendaki kita dicampakkan ……

Bukankah Dia sudah rela mati bagi kita ….. ?

Namun …..
Maukah kita bertobat ….. ?
Maukah kita mulai menjadi berkat ….. ?

Tuhan memberkati.

Cuba Renungkan Ini..

October 2nd, 2005 by fwyenx

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaanku.
Tuhan menjawab, Tidak. Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyempurnakan kecacatanku.
Tuhan menjawab, Tidak. Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkanku kesabaran.
Tuhan menjawab, Tidak. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.

Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku kebahagiaan.
Tuhan menjawab, Tidak. Aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan penderitaan.
Tuhan menjawab, Tidak. Penderitaan mejauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan rohku.
Tuhan menjawab, Tidak. Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Tuhan segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.
Tuhan menjawab, Tidak. Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Tuhan membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.
Tuhan menjawab.. Ahhh, akhirnya kau mengerti.

HARI INI ADALAH MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN

Tuhan Memberkatimu :)

Penantian Sang Ayah

September 5th, 2005 by fwyenx

Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya. Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas seat beltnya karena merasa tidak nyaman. Si ayah sudah menyuruhnya memasang kembali, namun si anak tidak menurut. Benar saja, di sebuah tikungan, sebuah mobil lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan. Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar. Kepalanya membentur aspal, dan menderita gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar apapun. Buta dan tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukkan yang bisa anaknya rasakan. Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya yang buta dan tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya.

Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang demam, dan es akan memperparah demam anaknya.

Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras sampai melukai tangan si anak, karena ternyata tempat ‘hangat’ tersebut tidak jauh dari sebuah gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya membuang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah, namun sang ayah hanya bisa menghela nafas. Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat. Namun apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepenuhnya percaya kalau ayahnya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada di samping anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdoa dan berharap, kalau suatu saat Tuhan boleh memberi mujizat.

Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendoakan kesembuhan anaknya. Setiap hari. Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yang tertidur di sampingnya. Kemudian di susul oleh penglihatannya. Ternyata Tuhan telah mengabulkan doa sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yang telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah & menangis, sambil berkata. "Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku."

"Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan?" Matius 7:10

PS: Luangkanlah waktu 5-10 minit untuk merenungkannya kembali dan kalau perlu bacalah kembali dari awal, hingga kamu mengerti ‘erti yang sangat dalam’ tersebut.

True Love… NO!!! Great Love…

September 4th, 2005 by fwyenx

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asyik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: "Duh…!!! bosen banget. Aku harap Aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku."

Peter: "Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. Cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang." Keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat.

Tina: "Kayaknya Aku ada ide bagus deh. Kita adakan permainan yuk?"

Peter: "Eh? Permainan apaan?"

Tina: "Eng… gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan Aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. Gimana menurutmu?"

Peter: "Baiklah… lagian Aku juga tidak ada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan."

Tina: "Kok kayaknya kamu tidak terlalu niat ya… semangat dong! Hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"

Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo tidak salah film The Troy lagi main deh. Katanya film itu bagus…"

Tina: "OK dech…. ayo kita pergi sekarang. Nanti pulang nonton kita ke karaoke ya… ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."

Peter: "Boleh juga…" Mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang pada malam harinya.

Hari ke 2:

Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe. Suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:

Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter. Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di food court, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:

Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan Tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.

Hari ke 25:

Peter mengajak Tina makan malam di sebuah restoran terkenal. Bulan sudah menampakkan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:

Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.

Hari ke 67:

Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama, dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 84:

Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:

Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.

15:20 pm

Tina: "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar." Peter: "Tunggu disini, Aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?" Tina: "Aku saja yang beli. Kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya." Peter mengangguk.

15:30 pm

Peter sudah menunggu selama 10 menit dan Tina belum kembali juga. Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.

Peter: "Ada apa, pak?"

Orang asing: "Ada seorang perempuan di tabrak mobil. Sepertinya perempuan itu adalah temanmu".

Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu. Di sana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat. Peter duduk di luar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit. Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23:53 pm

Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih bernafas sekarang tapi Yang Kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya." Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai. Peter duduk di samping pembaringan Tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat. Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah di tulis Tina untuknya.

"Dear Peter…

Ke 100 hari kita sudah hampir berakhir. Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu. Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa di tebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya. Sekarang Aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai, Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Peter, Aku sangat sayang padamu…"

23:58

Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku? Aku pun berdoa agar Tuhan mengizinkan kita bersama-sama selamanya. Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! Hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari! Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan Aku, jangan biarkan Aku kesepian! Tina, Aku sayang kamu…!!!"

Jam dinding berdentang 12 kali…. Jantung Tina berhenti berdetak. Hari itu adalah hari ke-100…

Pesan:

Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali lagi.

"True love doesn’t have a happy ending, because true love never ends…."

God’s Voice

September 1st, 2005 by fwyenx
This will give you the chills……..GOOD chills.

A young man had been to Wednesday night Bible Study.

The Pastor had shared about listening to God and obeying the Lord’s voice.

The young man couldn’t help but wonder, "Does God still speak to people?"

After service he went out with some friends for coffee and pie and they discussed the message. Several different ones talked about how God had led them in different ways.

It was about ten o’clock when the young man started  driving home. Sitting in his car, he just began to pray, "God…If you still speak to people speak to me. I will listen. I will do my best to  obey."

As he drove down the main street of his town, he had the strangest thought to stop and buy a gallon of milk. He shook his head and said out loud, "God is that you?" He didn’t get a reply and started on toward home. But again, the thought, buy a gallon of milk. The young man thought about Samuel and how he didn’t recognize the voice of God, and how little Samuel ran to Eli. "Okay, God, in case that is you, I will buy the milk." It didn’t seem like too hard a test of obedience. He could always use the milk. He stopped and purchased the gallon of milk and started off toward home.

As he passed Seventh Street, he again felt the urge, "Turn Down that street." This is crazy he thought and drove on past the intersection. Again, he felt that he should turn down Seventh Street. At the next intersection, he turned back and headed down Seventh. Half jokingly, he said out loud, "Okay, God, I will". He drove several blocks, when suddenly, he felt like he should stop. He pulled over to the curb and looked around. He was in semi commercial area of town. It wasn’t the best but it wasn’t the worst of neighborhoods either. The businesses were closed and most of the houses looked dark like the people were already in bed.

Again, he sensed something, "Go and give the milk to the people in the house across the street." The young man looked at the house. It was dark and it looked like the people were either gone or they were already asleep. He started to open the door and then sat back in the car seat.

"Lord, this is insane. Those people are asleep and if I wake them up, they are going to be mad and I will look stupid." Again, he felt like he should go and give the milk.

Finally, he opened the door, "Okay God, if this is you, I will go to the door and I will give them the milk. If you want me to look like a crazy person, okay. I want to be obedient. I guess that will count for something but if they don’t answer right away, I am out of here."

He walked across the street and rang the bell. He could hear some noise inside. A man’s voice yelled out, "Who is it? What do you want?" Then the door opened before the young man could get away. The man was standing there in his jeans and T-shirt. He looked like he just got out of bed. He had a strange look on his face and he didn’t seem too happy to have some stranger standing on his doorstep. "What is it?"

The young man thrust out the gallon of milk, "Here, I brought this to you." The man took the milk and rushed down a hallway. Then from down the hall came a woman carrying the milk toward the kitchen. The man was following her holding a baby. The baby was crying. The man had tears streaming down his face.

The man began speaking and half crying, "We were just praying. We had some big bills this month and we ran out of money. We didn’t have any milk for our baby. I was just praying and asking God to show me how to get some milk."

His wife in the kitchen yelled out, "I ask him to send an Angel with some. Are you an Angel?"

The young man reached into his wallet and pulled out all the money he had on him and put in the man’s hand. He turned and walked back toward his car and the tears were streaming down his face.

He knew that God still answers prayers.

THIS IS A SIMPLE TEST….? If you believe that God is alive and well, send this to at least ten people

This is so true. Sometimes it’s the simplest things that God asks us to do that cause us, if we are obedient to what He’s asking, to be able to hear. His voice more clear than ever. Please listen, and obey! It will bless you (and the world). Phil 4:13

This is an easy test, you score 100 or zero. It’s your choice.

If you aren’t ashamed to do this, please follow the directions. Jesus said, "If you are ashamed of me, I will be ashamed of you before my Father."

Not ashamed Pass this on .

Cerita Sedih ni.. baca la..

August 19th, 2005 by fwyenx

"Jangan Benci Aku Mama"

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, "Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"

"Nama saya Elic, Tante."

"Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric…

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu." tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak…

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya…

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

"Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…"

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…"

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya,dosa anda tidak terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. (kisah nyata di irlandia utara)